Setumpuk harapan, kepada siapa diperuntukkan?
Sejuta rasa kecewa
Upaya dan usaha yang sia sia, lantas mengapa sang putri menjelma jadi cinderella? Padahal dulu segalanya adalah miliknya
Kadang ia berpikr langkah ini salah, kadang ia berpikir yang berlalu adalah untuknya
Namun kapan mereka dipersatukan kembali? Setelah seperempat abad lamanya, bercumbu dalam buta, bermain-main dengan udara, tersenyum pada cermin
Bukan siapa siapa, melainkan bimbang
Yang selalu hadir dalam cerita, yang menemani setiap praduga, prasangka
Cemas itu rasa yang berat
Apalagi bercampur cinta
Apalagi bercampur rindu
Apalagi tercampur kecewa
Retak
Hancur
Kemudian ia satukan kembali, kepingan kepingan itu
Melahirkannya lagi, untuk kedua, ketiga, keempat, hingga tak terkira
Nyaris habis sudah dayanya
Tak sampai pada akal pikirnya
Hanya pada Tuhanlah ia percaya
Tapi mengapa ia disini?
Sepertinya ia terjebak
Atau menjebak dirinya sendiri
Rasanya ingin ia miliki selamanya, wahai pujangga tak bersuara
Yang diusahakan setengah hidup, diupayakan setengah mati
Seisi hati seisi logika
Sekuat raga setegar jiwa
Kapankah dirinya kan menerka? Setidaknya sedikit menyadari
Tuan putri, ciderella
Tersiksa dalam rumahnya sendiri
Kapan pangeran kan datang memisahkannya dari buaian?
Sejuta rasa kecewa
Upaya dan usaha yang sia sia, lantas mengapa sang putri menjelma jadi cinderella? Padahal dulu segalanya adalah miliknya
Kadang ia berpikr langkah ini salah, kadang ia berpikir yang berlalu adalah untuknya
Namun kapan mereka dipersatukan kembali? Setelah seperempat abad lamanya, bercumbu dalam buta, bermain-main dengan udara, tersenyum pada cermin
Bukan siapa siapa, melainkan bimbang
Yang selalu hadir dalam cerita, yang menemani setiap praduga, prasangka
Cemas itu rasa yang berat
Apalagi bercampur cinta
Apalagi bercampur rindu
Apalagi tercampur kecewa
Retak
Hancur
Kemudian ia satukan kembali, kepingan kepingan itu
Melahirkannya lagi, untuk kedua, ketiga, keempat, hingga tak terkira
Nyaris habis sudah dayanya
Tak sampai pada akal pikirnya
Hanya pada Tuhanlah ia percaya
Tapi mengapa ia disini?
Sepertinya ia terjebak
Atau menjebak dirinya sendiri
Rasanya ingin ia miliki selamanya, wahai pujangga tak bersuara
Yang diusahakan setengah hidup, diupayakan setengah mati
Seisi hati seisi logika
Sekuat raga setegar jiwa
Kapankah dirinya kan menerka? Setidaknya sedikit menyadari
Tuan putri, ciderella
Tersiksa dalam rumahnya sendiri
Kapan pangeran kan datang memisahkannya dari buaian?



