Tuesday, 18 October 2016

'Cinderella'

Setumpuk harapan, kepada siapa diperuntukkan?
Sejuta rasa kecewa
Upaya dan usaha yang sia sia, lantas mengapa sang putri menjelma jadi cinderella? Padahal dulu segalanya adalah miliknya

Kadang ia berpikr langkah ini salah, kadang ia berpikir yang berlalu adalah untuknya
Namun kapan mereka dipersatukan kembali? Setelah seperempat abad lamanya, bercumbu dalam buta, bermain-main dengan udara, tersenyum pada cermin

Bukan siapa siapa, melainkan bimbang
Yang selalu hadir dalam cerita, yang menemani setiap praduga, prasangka
Cemas itu rasa yang berat
Apalagi bercampur cinta
Apalagi bercampur rindu
Apalagi tercampur kecewa

Retak
Hancur
Kemudian ia satukan kembali, kepingan kepingan itu
Melahirkannya lagi, untuk kedua, ketiga, keempat, hingga tak terkira

Nyaris habis sudah dayanya
Tak sampai pada akal pikirnya
Hanya pada Tuhanlah ia percaya

Tapi mengapa ia disini?
Sepertinya ia terjebak
Atau menjebak dirinya sendiri

Rasanya ingin ia miliki selamanya, wahai pujangga tak bersuara
Yang diusahakan setengah hidup, diupayakan setengah mati

Seisi hati seisi logika
Sekuat raga setegar jiwa
Kapankah dirinya kan menerka? Setidaknya sedikit menyadari

Tuan putri, ciderella
Tersiksa dalam rumahnya sendiri
Kapan pangeran kan datang memisahkannya dari buaian?



Thursday, 23 June 2016

Kakanda



Kakanda, kalau orang-orang bilang ‘buka mata’ ketika kita memilih pasangan maka kakanda harus tahu
Aku senantiasa berusaha bersetigap pada harap
Aku senantia berprasangka baik padamu, pada Tuhanku, pada keadaan
Meski yang kuucap adalah cacian, meski yang ku ungkap adalah nyanyian kelabu

Kakanda, kalau orang-orang bilang ‘tinggalkan saja’ disaat lelakimu membuatmu menderita maka kakanda harus tahu
Seketika aku hapuskan lukaku sendiri, dengan ramuan yang kuracik selagi aku bersamamu
Seketika duka kutepis dengan tanganku sendiri atas tawa dan segala manisnya kenangan
Seketika aku mengingat-ingat segala kebaikanmu
Seketika aku melupakan… berapa ribu tetes air mata yang pernah jatuh
Dan bahagia bersamamu
Bahagia bersamamu

Kakanda, kekasihku, bukankah keinginanku begitu sederhana?